Rabu, 30 November 2011

Mazmur 146 :1-10

Renungan untuk BAKI PGI 2012
Minggu Adven 4, 23 Des 2012
Mazmur 146 : 1 – 10
Menantikan Tuhan adalah memperjuangkan keadilan-Nya.
Oleh : Pdt. Dr. Karolina Augustien Kaunang.
Menantikan Tuhan tidak berarti Tuhan baru akan datang. Menantikan-Nya adalah suatu tindakan responsif atas akta kelahiran-Nya. Sebab Dia yang telah lahir terus berkerja sampai sekarang menuju kegenapan-Nya. Dalam pengertian ini kita menghayati minggu adven 4 ini yang sisa dua hari lagi tiba hari Natal. Jadi menanti berarti aktif melakukan sesuatu. Di sini tidak berlaku ungkapan : pekerjaan yang paling membosankan adalah menanti/menunggu. Menanti dengan aktif membahagiakan sebab sudah jelas titik berangkatnya dan untuk apa serta hendak kemana atau sampai di mana.
Pembacaan Alkitab ini adalah salah satu dasar dari hal menantikan Tuhan dengan tindakan nyata. Ayat 1-2 adalah hakikat orang percaya yaitu memuji dan memuliakan Tuhan selama ia hidup. Sebab Dia yang menjadikan dunia ini dan yang tetap setia untuk selama-lamanya (ayat 6,10). Dan dalam ayat 3-5 ada nasihat agar hanya mempercayakan hidup orang percaya dan senantiasa berharap kepada Tuhan sumber keselamatan. Orang yang demikian adalah orang yang berbahagia. Kesetiaan Tuhan itu menyangkut penegakan keadilan bagi mereka yang diperas, yang lapar, yang terpenjara, yang buta, yang dizalimi, yang benar, orang asing, anak yatim dan janda. Sedangkan jalan orang fasik (tidak pedulikan kehendak Tuhan, kelakuan buruk, jahat) dibengkokkan-Nya (ayat 7-9).
Bila orang percaya mengatakan bahwa kehidupannya adalah berdasarkan kehendak Tuhan atau mengikuti pola pelayanan Tuhan, maka pembacaan ini terutama ayat 7-9 harus menjadi tugasnya juga. Memuji dan memuliakan Tuhan dalam segala jenis ibadah bukanlah terpenting apalagi satu-satunya cara. Ibadah-ibadah liturgikal-seremonial hanyalah salah satu cara. Cara ini terlalu sering dilakukan orang percaya, dan melupakan cara yang lain. Yang lebih parah lagi bila isi Firman dalam ibadah itu seperti syair dalam nyanyian, doa dan khotbah/renungan hanya tertuju pada masalah-masalah kebatinan dan kerohanian sempit dan individual. Atau sekedar pemuasan keinginan batiniah seorang. Padahal ibadah-ibadah liturgikal-seremonial harus menjadi salah satu pangkal bertolak maju melakukan perubahan dan pembaharuan budi dengan melakukan yang benar, adil, jujur dalam hidup pribadi, keluarga dan dengan serta untuk semua orang.
Menantikan Tuhan Allah pada masa kini tidak bisa tidak yaitu memperjuangkan keadilan menurut kehendak-Nya, yaitu berpihak kepada mereka yang kecil, miskin, terpinggir, tertindas, dikerasi secara struktural. Siapapun yang menjadi korban baik oleh pribadi-pribadi maupun oleh lembaga keumatan (tak terkecuali oleh lembaga agama/gereja) dan lembaga negara/pemerintah harus menjadi sasaran dari perjuangan ini.
Terlalu kentara dalam di minggu-minggu adven, orang kristen menjadi lebih ‘manusiawi’ dengan kegiatan ‘berbagi kasih’ dengan anak-anak yatim piatu, orang miskin, orang jompo. Kegiatan ini bahkan sampai disiarkan melalui media massa dan elektronik. Kegiatan seperti ini belum menjadi program rutin sebagai tanda solidaritas yang berkelanjutan dan bahkan sampai pada upaya menemukan akar persoalannya untuk ditangani secara komprehensif. Terlalu sering, di saat-saat menjelang hari Natal, terjadi percekcokan karena uang tabungan, uang paket, beli pakaian sepatu, perabot rumah tangga, kumpul sumbangan. Akibatnya minggu adven sebagai saat-saat merenung kembali (refleksi) dan bertindak (aksi) untuk keadilan dan kebenaran terabaikan.
Tinggal dua hari lagi kita akan merayakan Natal pertama dan masih ada waktu Tuhan bagi kita menanti kedatangan-Nya kedua kali. Mari kita memperjuangkan hidup kita pada umumnya yang masih berada dalam kesusahan, kemiskinan, ketidakadilan hukum dan hak asasi pada satu pihak, dan banyak pula yang terlilit oleh penyakit masyarakat, dibelenggu oleh nikmatnya kuasa, jabatan dan uang bahkan seks.
Perayaan Natal akan menjadi syaloom bagi kita bersama bila keadilan terus menjadi visi kita dan kita terus bermisi yakni berjuang membela yang adil dan benar sampai Tuhan datang kembali. Selamat merayakan Natal Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia. Amin

Mazmur 146 :1-10

Renungan untuk BAKI PGI 2012
Minggu Adven 4, 23 Des 2012
Mazmur 146 : 1 – 10
Menantikan Tuhan adalah memperjuangkan keadilan-Nya.
Oleh : Pdt. Dr. Karolina Augustien Kaunang.
Menantikan Tuhan tidak berarti Tuhan baru akan datang. Menantikan-Nya adalah suatu tindakan responsif atas akta kelahiran-Nya. Sebab Dia yang telah lahir terus berkerja sampai sekarang menuju kegenapan-Nya. Dalam pengertian ini kita menghayati minggu adven 4 ini yang sisa dua hari lagi tiba hari Natal. Jadi menanti berarti aktif melakukan sesuatu. Di sini tidak berlaku ungkapan : pekerjaan yang paling membosankan adalah menanti/menunggu. Menanti dengan aktif membahagiakan sebab sudah jelas titik berangkatnya dan untuk apa serta hendak kemana atau sampai di mana.
Pembacaan Alkitab ini adalah salah satu dasar dari hal menantikan Tuhan dengan tindakan nyata. Ayat 1-2 adalah hakikat orang percaya yaitu memuji dan memuliakan Tuhan selama ia hidup. Sebab Dia yang menjadikan dunia ini dan yang tetap setia untuk selama-lamanya (ayat 6,10). Dan dalam ayat 3-5 ada nasihat agar hanya mempercayakan hidup orang percaya dan senantiasa berharap kepada Tuhan sumber keselamatan. Orang yang demikian adalah orang yang berbahagia. Kesetiaan Tuhan itu menyangkut penegakan keadilan bagi mereka yang diperas, yang lapar, yang terpenjara, yang buta, yang dizalimi, yang benar, orang asing, anak yatim dan janda. Sedangkan jalan orang fasik (tidak pedulikan kehendak Tuhan, kelakuan buruk, jahat) dibengkokkan-Nya (ayat 7-9).
Bila orang percaya mengatakan bahwa kehidupannya adalah berdasarkan kehendak Tuhan atau mengikuti pola pelayanan Tuhan, maka pembacaan ini terutama ayat 7-9 harus menjadi tugasnya juga. Memuji dan memuliakan Tuhan dalam segala jenis ibadah bukanlah terpenting apalagi satu-satunya cara. Ibadah-ibadah liturgikal-seremonial hanyalah salah satu cara. Cara ini terlalu sering dilakukan orang percaya, dan melupakan cara yang lain. Yang lebih parah lagi bila isi Firman dalam ibadah itu seperti syair dalam nyanyian, doa dan khotbah/renungan hanya tertuju pada masalah-masalah kebatinan dan kerohanian sempit dan individual. Atau sekedar pemuasan keinginan batiniah seorang. Padahal ibadah-ibadah liturgikal-seremonial harus menjadi salah satu pangkal bertolak maju melakukan perubahan dan pembaharuan budi dengan melakukan yang benar, adil, jujur dalam hidup pribadi, keluarga dan dengan serta untuk semua orang.
Menantikan Tuhan Allah pada masa kini tidak bisa tidak yaitu memperjuangkan keadilan menurut kehendak-Nya, yaitu berpihak kepada mereka yang kecil, miskin, terpinggir, tertindas, dikerasi secara struktural. Siapapun yang menjadi korban baik oleh pribadi-pribadi maupun oleh lembaga keumatan (tak terkecuali oleh lembaga agama/gereja) dan lembaga negara/pemerintah harus menjadi sasaran dari perjuangan ini.
Terlalu kentara dalam di minggu-minggu adven, orang kristen menjadi lebih ‘manusiawi’ dengan kegiatan ‘berbagi kasih’ dengan anak-anak yatim piatu, orang miskin, orang jompo. Kegiatan ini bahkan sampai disiarkan melalui media massa dan elektronik. Kegiatan seperti ini belum menjadi program rutin sebagai tanda solidaritas yang berkelanjutan dan bahkan sampai pada upaya menemukan akar persoalannya untuk ditangani secara komprehensif. Terlalu sering, di saat-saat menjelang hari Natal, terjadi percekcokan karena uang tabungan, uang paket, beli pakaian sepatu, perabot rumah tangga, kumpul sumbangan. Akibatnya minggu adven sebagai saat-saat merenung kembali (refleksi) dan bertindak (aksi) untuk keadilan dan kebenaran terabaikan.
Tinggal dua hari lagi kita akan merayakan Natal pertama dan masih ada waktu Tuhan bagi kita menanti kedatangan-Nya kedua kali. Mari kita memperjuangkan hidup kita pada umumnya yang masih berada dalam kesusahan, kemiskinan, ketidakadilan hukum dan hak asasi pada satu pihak, dan banyak pula yang terlilit oleh penyakit masyarakat, dibelenggu oleh nikmatnya kuasa, jabatan dan uang bahkan seks.
Perayaan Natal akan menjadi syaloom bagi kita bersama bila keadilan terus menjadi visi kita dan kita terus bermisi yakni berjuang membela yang adil dan benar sampai Tuhan datang kembali. Selamat merayakan Natal Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia. Amin

Yohanes 11:1-45

Renungan untuk BAKI 2011
Minggu Pra Paskah V, 10 April 2011


Yohanes 11:1-45 Penyakit dan Kematian Bukanlah Akhir Perjuangan Iman.

Di minggu pra paskah ini, kita membaca Alkitab tentang Lazarus dibangkitkan. Sepertinya pemilihan bacaan ini tidak bertindih tepat dengan kalender gerejawi atau tahun gerejawi. Memang bila secara sepintas apalagi hanya terfokus pada peristiwa kebangkitan Lazarus, maka ketidak-relevanan bacaan di minggu ini cukup beralasan.
Namun, bila kita menelusuri ayat demi ayat dari 44 ayat ini, maka ada hal yang berkaitan dengan maksud minggu pra paskah yaitu menghayati arti penderitaan Yesus dan penderitaan orang beriman kepada-Nya.

Meski bagian Alkitab ini diberi judul Lazarus dibangkitkan, namun sesungguhnya yang paling banyak dibicarakan di sini adalah soal penyakit Lazarus. Yesus mengatakan bahwa bukan penyakit yang membawa kematian yang ditekankan, melainkan “penyakit itu menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” (ayat 4). Kematian Lazarus membuat rasa kehilangan yang mendalam bagi Maria dan Marta. Bahkan Yesus sendiri turut menyaksikan Lazarus yang sedang terbaring kaku di tempat tidurnya (ayat 35). Dapat kita bayangkan kedekatan hubungan antara Yesus dan keluarga Lazarus, Marta dan Maria. Sampai-sampai Maria dan Marta begitu yakin bila Yesus ada bersama mereka pastilah saudara mereka Lazarus tidak mati. Sementara itu Yesus sebagai Tuhan tahu dengan pasti bahwa Lazarus pasti dapat hidup kembali, bahkan Yesus sempat bicara untuk mengurangi rasa putus harapan mereka dengan mengatakan bahwa Lazarus hanyalah tidur. Sebab Yesus adalah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan hidup walaupun sudah mati” (ayat 25).

Dari cerita ini, dapat ditarik beberapa butir refleksi :
1. Penyakit menyatakan kemuliaan Allah. Artinya setiap penyakit yang diderita oleh seseorang, pastilah Tuhan mengetahui dan ada maksudnya dan manfaatnya bagi diri sendiri dan karena itu bagi kemuliaan Tuhan. Dalam banyak hal penyakit kita hindari, kita berdoa dan berusaha agar kita tetap sehat dan jangan sakit. Tetapi bila penyakit itu datang, pasti ada maksud Tuhan bagi kita. Sama halnya dengan penderitaan. Tidak ada seorangpun yang menginginkan hidupna menderita, tidak ada seorangpun yang berdoa agar ia menderita. Tetapi, bila penderitaan itu datang menimpa hidup kita, baik itu karena ulah kita sendiri maupun karena ulah orang lain, pastilah Tuhan mempunyai maksud. Ada ungkapan “Tuhan tidak akan memberi cobaan yang melampaui kemampuan kita”.
2. Merasa kehilangan dan menangis atas kematian seseorang yang kita kasihi adalah suatu kewajaran alias manusiawi. Namun di tengah suasana ini, janganlah berputus asa. Selalu berpengharapan bahwa ada masa depan. Memang pada jaman sekarang ini adalah tidak mungkin mengharapkan bangkitnya seseorang yang sudah mati. Namun hal yang pasti ialah pengharapan di tengah kenyataan kematian ada kehidupan bila membawa segala keluh kesah dan pergumulan ini kepada Tuhan. Ia paling tahu apa yang kita harapkan dan yang kita butuhkan. Kedekatan dengan Tuhan akan teralami saat kita selalu berdialog dengan Dia melalui doa.
3. Peran perempuan untuk kehidupan sangat signifikan. Meski keberadaan dua perempuan di sini adalah suatu kebetulan, namun tercatatnya dua nama ini menyatakan bahwa peran perempuan dalam hal perhatian dan pengharapan akan kehidupan dalam tangan Tuhan sangat berarti. Bahkan mereka berhasil menggugah rasa kedekatan Yesus dengan keluarga mereka. Perilaku mereka ini adalah tulus bukan dibuat-buat, bukan untuk cari muka agar dapat perhatian. Persekutuan dan kedekatan yang sudah terjalin lama dan berkelanjutan menjadi dasar dari pengharapan mereka akan kehidupan dari Tuhan Yesus.
4. Kematian seseorang bukanlah akhir dari segala perjuangan orang beriman. Sebab kita mempunyai Tuhan Yesus yang adalah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa yang percaya kepada-Nya, ia akan hidup walaupun sudah mati. Mari kita kutip juga pengakuan iman yang biasanya kita ucapkan dalam ibadah minggu di gedung gereja berbunyi antara lain “… Aku percaya kepada Roh Kudus; Gereja yang kudus dan am; persekutuan orang kudus; pengampunan dosa; kebangkitan daging, dan hidup yang kekal.”
Keempat butir refleksi ini menjadi bahan perenungan kita di minggu pra paskah V ini. Intinya : penyakit dan kematian bukanlah kata akhir dari kehidupan ini. Di jaman yang makin canggih ini, belum semua orang memandang dan menjadi bagian hidupnya serta kelakuannya sehari-hari tentang hidup adalah perjuangan yang harus dimaknai dengan hal-hal yang benar, adil, jujur, baik dan bermartabat. Sekalipun harus menderita, tetapi kebenaran, keadilan, kekujuran, kebaikan dan hidup bermartabat harus tetap dikedepankan menjadi jalan hidup kita. Amin

Yohanes 9 : 1-41

Renungan di Minggu Pra Paskah IV, 3 April 2011
Yohanes 9:1-41

Habis Gelap Terbitlah Terang dari dan di dalam Yesus

Salah satu tugas Gereja atau gereja-gereja ialah menyembuhkan bermacam-macam penyakit. Apapun jenis dan macam bahkan rupa penyakit itu (jasmani dan rohani) sama-sama menjadi perhatian Gereja yang adalah kawan sekerja Tuhan Allah di muka bumi ini sekarang ini. Gereja tidak hanya mengurusi hal-hal rohani yang tradisional seperti melayani ibadah seremonial dan pembinaan hal-hal menyangkut ajaran klasik dengan teologi yang belum transformatif kontekstual. Sementara itu masalah-masalah penyakit kontemporer seperti HIV/AIDS dan masalah-masalah sosial lainnya seperti trafficing dan kekerasan dalam rumah tangga, belum dilihat serius bahkan ada yang belum melihatnya sama sekali sebagai hal-hal yang harus segera ditanganinya. Tentu Gereja tidak dapat berjalan sendiri tanpa berkoordinasi dan bekerjasama dengan lembaga-lembaga terkait.

Syukurlah, di tengah kebelum-seriusan bahkan ketidakpeduliaan tadi, PGI bersama-sama dengan beberapa anggotanya (gereja-gereja) terus mensosialisasikan keberpihakannya kepada korban HIV/AIDS. Ini berarti sudah mulai terjadi perubahan paradigma bergereja yaitu tidak sebatas mengurusi atau melayani hal-hal ‘rohani’ saja. Bahkan lebih dari padanya, ada perubahan prinsip teologis dalam melihat kenyataan penyakit bukan sebagai akibat dari dosa (melawan kehendak Allah) dan karenanya bukan sebagai kutuk.

Kenyataan masa kini di atas, dapatlah kita bandingkan dengan kenyataan lain seperti yang kita baca dalam bagian Alkitab ini. Cerita tentang orang buta sejak lahirnya cukup panjang diuraikan. Ada pandangan pada masa itu yang menghubungkan antara dosa dan orang yang lahir buta. “Siapa yang berbuat dosa, orang buta itu sendiri atau orang tuanya?” demikian pertanyaan yang dilontarkan kepada Yesus oleh para murid-Nya. Jawaban Yesus di luar dugaan. Buta sejak lahir tidak ada kaitannya dengan keberdosaan seseorang. Hal ini terjadi karena kehendak atau pekerjaan/karya Allah bagi anak itu terutama dan tentu juga bagi orang tuanya. Oleh karena itu, maka atas kehendak –Nya pula maka orang yang buta ini kemudian dapat melihat. Cara Allah memelekkan mata orang ini cukup jelas dituliskan. Kenyataan buta menjadi tidak buta bukan dengan cara berdoa semalam suntuk atau melalui hipnotis dengan label ‘dunamis’ seperti yang dipraktekkan dalam kegiatan-kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani, melainkan dengan pengobatan alamiah : mengaduk ludah dengan tanah, mengoleskannya pada mata orang buta, kemudian orang itu disuruh untuk membasuh dirinya ke kolam Siloam. Sesudah itu, matanya terbuka. Jadi Yesus sendiri menggunakan alam ciptaan sebagai sarana menciptakan suatu hal yang sama sekali baru : dari tidak melihat dapat melihat, dari gelap menjadi terang, dari suasana lama ke suasana baru, dari ketidakadaan harapan berpengharapan, dari hidup masa bodoh menjadi bergairah. Pendek kata Yesus berkuasa untuk mengubah apa yang tidak dapat diubah oleh manusia, Yesus memungkinkan apa yang tidak mungkin. Yesus melakukan ini pada hari Sabat, yang oleh masyarakat beragama pada waktu itu tidak membolehkan orang berkerja termasuk menyembuhkan. Dia itu pemilik atas segala yang tercipta dan terus menerus mencipta : Ia masih terus bekerja sampai sekarang. Dalam Dia hidup manusia yang ‘terpuruk’ oleh masyarakatnya sendiri diubah menjadi hidup yang berfungsi dan berarti serta menjadi berkat. Bagi Yesus berbuat baik apalagi memelekkan mata orang buta sejak lahir dapat dilakukan kapan saja termasuk pada hari Sabat. Tentu, kita semua teringat akan ungkapan Ia itu “Tuhan atas hari Sabat.”

Segi lain yang menarik untuk kita ingat bahwa Tuhan tidak meminta orang percaya dulu baru ‘mujizat’ itu terjadi, melainkan sebaliknya sesudah terjadi mujizat itu baru kemudian Yesus bertanya:”Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Orang buta itu belum tahu sebelumnya siapa yang memelekkan matanya. Nanti sesudah terjadi dialog antara keduanya, maka semua menjadi jelas. “Aku percaya, Tuhan!”, demikian jawabnya. Orang yang matanya tidak buta lagi mengenal dan menjadi percaya kepada si pembuat mujizat itu. Dialah Yesus.

Di minggu pra Paskah IV ini, kita mengingat Yesus yang menderita sengsara karena a.l. ada salah pandang dari masyarakat beragama pada masa itu tentang keberadaan dan karya Yesus. Dalam iman kita meyakini bahwa kesengsaraan-Nya membawa keselamatan kepada semua orang bahkan semua ciptaan. Gereja diingatkan akan visi keselamatan dari dan dalam Yesus yang menderita untuk kemudian dilanjutkan/dilakukan (misi) pertama-tama bagi mereka yang mengalami penderitaan dan yang menjadi korban kejahatan zaman. Habis gelap terbitlah terang dari dan di dalam Yesus, Juruselamat dunia. Amin

Senin, 28 Desember 2009

HIDUP adalah PERJUANGAN

Khotbah untuk Buku Pemberdayaan W/KI
Edisi Des 2009 – Jan 2010
27 Desember 2009/ Minggu Antara

MATIUS 2 : 16 -23

Latar Belakang Naskah
Cerita ini adalah rangkaian dari cerita tentang kelahiran Yesus Kristus (pasal 1:18-2:23). Kelahiran Yesus pada satu pihak adalah kabar baik bagi orang-rang yang merindukan datangnya seorang yang akan menyelamatkan mereka dari dosa (1:21), tetapi pada pihak lain, adalah kabar buruk bagi raja Herodes yang memerintah waktu itu. Sebab berita yang sampai ke telinga Herodes yakni yang lahir ini adalah raja orang Yahudi (2:1). Sebagai seorang raja, Herodes punya banyak cara untuk menemukan Yesus yang baru lahir itu. Ia meminta kepada para Majus pembawa berita itu yang sedang mencari-cari bayi yang baru lahir itu, agar bila sudah bertemu, mengabarkannya kepadanya agar iapun datang menyembah bayi itu. Ini hanya akal-akalan dari Herodes. Malaikat menyuruh Yusuf dan Maria untuk segera lari meninggalkan tempat kelahiran itu (Betlehem) dan menuju ke Mesir, sebab Herodes akan mencarinya untuk membunuhnya (2:13-15).

Tema : Hidup adalah Perjuangan

Kelahiran Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia telah dan sedang kita rayakan
sejak tanggal 25 Desember. Kita sedang merayakan hari Natal-Nya. Dari tahun ke tahun
kita merayakannya dengan penuh sukacita mulai dengan biaya yang murah meriah
sampai pada yang sangat-sangat mahal/mewah, bahkan sering terkesan boros. Kita sering
lupa Natal-Nya pada awalnya berada dalam dua suasana yaitu suasana sukacita bagi
rakyat banyak dan suasana tegang/marah/geram bagi sang penguasa waktu itu yaitu
Herodes. Suasana sukacita terpancar dari upaya para Majus untuk menemukan bayi itu
dengan membawa hadiah-hadiah: emas, kemenyan dan mur. Juga para malaikat di sorga
menyanyikan nyanyian yang sungguh indah (seperti yang tertulis dalam Lukas 2:14).
Itulah yang menjadi dasar sukacita kita dalam merayakan Natal ini setiap tahun.
Sedangkan suasana sebaliknya sangat dirasakan oleh raja Herodes. Kelahiran Yesus
menjadi ancaman bagi ke’raja’an Herodes. Sebab menurut para Majus bahwa yang lahir
ini adalah seorang raja orang Yahudi.

Kemarahan raja Herodes ini telah membuatnya memutuskan untuk mencari bayi Yesus
dengan cara membunuh semua anak yang berumur di bawah dua tahun di Betlehem dan
sekitarnya. Kita (ibu-ibu) dapat membayangkan betapa berkabungnya masyarakat pada
waktu itu terutama para ibu bapa yang anaknya menjadi korban dari kemarahan raja.
Anak-anak sebagai buah cinta kasih ibu-bapa dibunuh begitu saja. Meskipun para
orangtua tahu sebab tindakan raja ini, tetapi perbuatan itu adalah kejahatan kemanusiaan
yang tidak boleh dilakukan apalagi oleh seorang pemimpin bangsa. Namun, itulah
kenyataannya. Peristiwa ini membelajarkan kita semua, siapapun kita, pemimpin dan
yang dipimpin, agar tidak membunuh siapapun hanya karena kepentingan sendiri.
Kehadiran seorang yang “lain” atau berbeda tidak harus dianggap sebagai ‘saingan’ atau
musuh. Tetapi sebaliknya sebagai mitra atau teman atau sahabat yang dapat membangun
kekuatan bersama. Bahkan kalau ternyata seorang yang lain itu ternyata lebih baik atau
berkualitas, maka terimalah dia sebagai orang yang lebih daripada kita. Jangan-jangan dia
adalah anugerah bagi kita yang berbeda.

Kelahiran Yesus, betapapun itu tidak disenangi oleh Herodes bahkan diupayakannya untuk dibunuh, tetapi karena memang Yesus dilahirkan untuk menyelamatkan, maka pastilah dia luput dari buruan Herodes. Malaikat terus melindunginya melalui orangtuanya dengan cara menghindari tempat-tempat berbahaya. Dari Mesir ke Galilea, bukan ke tanah Israel. Kedatangan Yesus bersama orangtuanya ke Galilea dari Mesir merupakan kegenapan dari firman yang disampaikan oleh para nabi bahwa Ia akan disebut : Orang Nazaret. Hal in menyatakan kepada kita sebagai orangtua (ibu-ibu) bahwa hidup itu harus diperjuangkan. Senantiasa menghindari bahaya. Menjadi orangtua terhadap anak yang masih kecil memerlukan kiat-kiat khusus agar anak terhindar dari berbagai bahaya. Bila sudah tahu ada bahaya apalagi sudah ada jalan keluar yang disediakan, haruslah segera dilaksanakan. Jangan menunggu dulu.
Begitupun dengan kita semua sebagai orang-orang dewasa (ibu-ibu). Hadapilah hidup ini
dengan menghindari musuh dan celaka. Jaman yang semakin canggih (rumit) ini,
diperlukan ketelitian, kewaspadaan, kehati-hatian, “ba pikir panjang”, cermat, namun
cepat memutuskan berdasarkan pertimbangan yang matang. Biar waktu cepat tetapi tetap
berhasil baik dan benar. Di atas semua itu, mohonlah petunjuk dari Tuhan melalui doa.

Kita sekarang berada di minggu terakhir tahun 2009. Sebelum kita melangkah lebih lanjut
meninggalkan tahun 2009 ini, sebaiknya kita menoleh dulu ke belakang, kita evaluasi
atau nilai kembali apa yang sudah kita lakukan, kita alami. Apakah yang sudah kita
lakukan terhadap diri kita sendiri, keluarga, gereja dan masyarakat ? Sesudah itu, kita
maju untuk meneruskan kehidupan yang Tuhan karuniakan ini untuk meninggalkan tahun
2009 dan memasuki tahun baru 2010. Tuhan kita adalah Tuhan atas sejarah hidup kita.
Berdoa dan berharap yang dilanjutkan dengan kerja keras dalam kebaikan dan kebenaan
hendaknya menjadi ciri hidup kita. Merayakan Natal-Nya berarti merayakan kehidupan
yang terus berlanjut agar dapat memasuki lagi tahun yang baru, tahun anugerah-Nya.
Amin

Bahan untuk diskusi
Bila kita tahu bahwa ada orang yang ingin membunuh kita, apakah yang akan kita lakukan ?
Upaya apa yang kita akan lakukan untuk memperjuangkan kehidupan yang penuh tantangan dan cobaan ini ?

Implementasi
Mengadakan pelatihan tentang hal mengenal siapa kita sendiri dengan kajian SWOT yaitu Strong (kekuatan), Weekness (Kelemahan), Opportunity (Kesempatan/Peluang), Threat (Ancaman). Pelatihan ini sebagai sampel atau contoh untuk mengenal keberadaan yang lebih luas lagi, seperti kelompok atau organisasi.

Kamis, 10 September 2009

8. Renungan Pemberdayaan W/KI GMIM
Edisi Oktober-November 2009
15 November 2009

I Samuel 10: 1-16

Latar Belakang Naskah
Umat Israel melalui tua-tua meminta Samuel untuk mengangkat seorang raja bagi mereka. Alasannya ialah agar ada seorang yang akan menghakimi dan memimpin mereka dalam perang. Artinya agar ada keadilan di antara mereka dan ada pemimpin dalam menghadapi bangsa-bangsa lain (8:20). Inilah pertama kali dalam sejarah Israel akan diangkatnya seorang raja. Samuel sebagai seorang nabi sekaligus seorang hakim, bertanggungjawab atas pengangkatan raja. Segala persyaratan menjadi seorang raja telah disiapkan oleh Samuel bahkan sedang berproses (9:1-27).

Khotbah : Menjadi Raja

Bagian alkitab ini menceritakan pengurapan Saul menjadi raja oleh Samuel. Singkatnya ialah pengurapan ini didahului dengan menuangkan minyak ke atas kepalanya dan Saul menciumnya. Pernyataan pengurapan dalam bentuk kalimat tanya diikuti dengan pernyataan status serta fungsinya menjadi raja. Untuk menguatkan pengurapan tersebut, maka Samuel menyampaikan tanda-tandanya (ayat 2-8). Salah satu tanda pengurapan itu adalah Saul akan bertemu dengan serombongan nabi dan Roh Tuhan akan berkuasa atasnya. Pengurapan ini tidak diceritakan Saul kepada pamannya.
Dari rangkaian upacara pengurapan ini, ada dua hal yang sangat berarti bagi kita di masa kini ialah tentang pertama bahwa yang mengurapi Saul menjadi raja adalah TUHAN melalui tangan Samuel. Kedua bahwa tugas raja ialah memerintah umat TUHAN dan menyelamatkan mereka dari tangan musuh-musuh di sekitar mereka. Sebagai umat Kristen di masa kini, marilah kita pelajari apa artinya dua hal ini bagi kita baik sebagai ibu dalam keluarga maupun sebagai warga gereja dan warga negara dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, pengurapan seorang raja adalah hak Tuhan. Karena itu, seorang raja dalam tugas-tugasnya hendaknya selalu sadar bahwa dia adalah alat-Nya di dunia ini. Apapun yang akan dilakukan raja haruslah berdasarkan kehendak-Nya. Samuel yang mengurapi Saul atas nama TUHAN hendak mengatakan bahwa Samuelpun hanyalah alat TUHAN. Samuel tidak ada hak apapun terhadap pengurapan raja. Ia tidak ada hak untuk mengambil atau mencabut atau memecat Saul sebagai raja. Pengurapan raja adalah hak Allah.
Kedua, tugas atau fungsi raja ada dua yaitu memerintah umat-Nya dan menyelamatkan umat-Nya dari musuh-musuh di sekitarnya. Jadi jelas sekali bahwa yang diperintah seorang raja adalah umat TUHAN, umat milik TUHAN, bukan umat milik raja atau milik manusia. Tugas raja menjadi kawan sekerja-Nya untuk umat-Nya. Memerintah umat-Nya, bukan untuk diri raja (dan keluarganya atau kroni-kroninya). Menjadi raja berarti memberi diri sepenuhnya untuk umat milik TUHAN. Tugas kedua dari raja ialah untuk menyelamatkan dari musuh-musuh atau melindungi umat dari gangguan bahkan serangan bangsa-bangsa lain. Dengan kata lain, tugas raja ialah mengasihi umat TUHAN ini, bukan sebaliknya menjadi musuhnya. Kalau terjadi demikian, maka harus dipertanyakan kembali apakah raja ini masih menjadi raja urapan TUHAN ? Demikian pula dengan umat TUHAN, jangan-jangan umat TUHAN tidak lagi melaksanakan kehendak-Nya ? Dengan kata lain, baik raja dan umat hendaknya sama-sama menyadari bahwa TUHAN adalah pemilik segala yang dipunyainya, bahwa TUHAN adalah pemilik kehidupan ini.
Kiranya kedua hal penting dalam rangkaian pengurapan raja ini memberi dasar teologis bagi kita jemaat, kaum ibu/perempuan gereja untuk mempertanyakan selalu tentang hakikat hidup kita menjadi isteri, ibu, warga gereja dan warga negara. Bila di antara kita ada yang dipercayakan menjadi ‘raja’ atau pemimpin dalam persekutuan kecl atau besar, hendaknya ingat cerita Saul menjadi raja. Belajarlah dari Saul dan Samuel agar TUHAN tetap dimuliakan dalam persekutuan kita, dan persekutuan kita menjadi berkat bagi dan di antara kita dan pada gilirannya orang-orang lainpun menjadi percaya dan menerima TUHAN kita sebagai TUHANnya pula. Di sinilah aspek misi atau pekabaran Injil dari persekutuan hidup kita. Bagi para pelayan khusus yang baru saja terpilih dalam lingkungan pelayanan GMIM, hendaklah menjadi menjadi pelayan khusus TUHAN dan untuk keselamatan umat TUHAN. Amin

Bahan untuk diskusi
- Bagaimana pengalaman kita sewaktu pemilihan pelayan khusus Oktober lalu ?
- Bagaimana pendapat kita tentang salah satu asset GMIM yaitu Bukit Inspirasi yang dikontrakkan oleh BPS GMIM untuk mendapatkan biaya bagi pengangkatan Pendeta menjadi Pekerja GMIM?
- Bagaimana pendapat kita tentang pemberhentikan 11 orang pekerja GMIM termasuk pemberhentian 10 orang sebagai PENDETA yang dilakukan oleh BPS GMIM?

Implementasi
- Wanita/Kaum Ibu perlu mempelajari bersama tentang Tata Gereja GMIM 2007 dengan bantuan pertanyaan : apakah Tata Gereja kita sudah mencerminkan kehendak Allah ? apakah peraturan-peraturan tentang tugas BPS, BPW dan BPMJ serta Para Pelayan Khusus mencerminkan tugas memerintah umat TUHAN dan menyelamatkan umat TUHAN dari musuh-musuh di sekitarnya ?
- Wanita/Kaum Ibu perlu menguji ulang segala programnya dengan bantuan pertanyaan : apakah program kita dalam rangka menyelamatkan wanita/kaum ibu dari berbagai masalah seperti KDRT, HIV/AIDS, Traffiking.
7. Renungan Pemberdayaan W/KI GMIM
Edisi Oktober-November 2009
1 November 2009

I Samuel 8: 1- 22.

Latar Belakang Naskah
Isi pokok kitab I Samuel ialah Samuel Mempersiapkan Kerajaan. Siapakah Samuel ? Ia adalah tokoh peralihan dari zaman hakim-hakim ke zaman kerajaan. Ia pernah mengalahkan orang-orang Filistin di Mizpa, bukan dengan menghunus pedang tetapi dengan doa. Ia juga digambarkan sebagai seorang nabi dan pelihat. Ia secara rutin mempersembahkan korban dan berpakaian imam seolah-olah ia seorang imam, dan sebagai seorang hakim ia juga menjadi pemutus perkara dan perselisihan pada semua suku. Pendek kata, ia melakukan berbagai tugas yang diperlukan dalam komunitas Israel. Dalam hal ini, ia hampir serupa dengan tokoh Musa, apalagi menjelang akhir hidupnya ia menyampaikan wejangan perpisahan dan wasiat rohani (pasal 12).
Ada dua persoalan yang hendak dijawab dalam kitab ini, yaitu pertama, siapakah yang akan menjadi raja? Kedua, siapakah yang akan menggantikan raja itu?
Bagian alkitab yang kita baca hari ini menceritakan tentang keinginan umat Isreal untuk memperoleh raja yaitu dengan memohon kepada Samuel agar ia mengangkat raja bagi mereka bukan dari anak-anaknya yang berprilaku buruk itu.

Khotbah : Jabatan dan Demokrasi

Ada ungkapan yang sudah sangat lama kita tahu dan yang sampai sekarang masih kita dengar dan atau pakai yaitu : ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’. Tanpa kita ingat bahwa bila pohon berada di tanah yang miring apalagi bila di bawahnya ada aliran sungai, maka pastilah buah yang jatuh dari pohon akan ‘pergi’ jauh-jauh sekali. Nah… ayat 1-3 secara khusus menceritakan fakta bahwa anak-anak Samuel yaitu Yoel dan Abia tidak hidup seperti ayahnya. Mereka berdua yang diangkat Samuel menjadi hakin atas orang-orang Israel ternyata tidak hidup seperti ayah mereka. Sebaliknya mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan. Padahal tugas seorang hakim pada waktu itu ialah melayani umat Tuhan dengan benar dan adil. Jadi, sudah jelas sejak dahulu kala, ungkapan di atas tidak sepenuhnya benar. Begitu juga pada masakini kita mendengar, menyaksikan bahkan mungkin mengalami sendiri bahwa ada orangtua yang kelakuannya tidak baik, tetapi anaknya menjadi orang yang baik bahkan sangat baik.
Kembali kepada maksud ayat 1-3 tadi. Karena anak-anak-anak Samuel tidak dapat melanjutkan tugas dari ayah mereka sebagai Hakim atas bangsa Israel, maka para tua-tua meminta Samuel untuk mengangkat seorang raja. Alasan mereka ialah agar ada yang memerintah mereka seperti yang terjadi pada bangsa-bangsa lain. Permintaan mereka ini disampaikan oleh Samuel kepada Tuhan. Tuhan meresponnya dengan mengatakan Samuel hendaknya mendengarkan permintaan itu, memperingatkan dan memberitahu mereka tentang hak raja. Di sini dimaksudkan agar mereka tahu akan segala konsekuensi memiliki seorang raja. Ada hak raja dan ada kewajiban rakyat/umat seperti yang tertuang dalam ayat 11-18. Adanya hak raja berarti berkurangnya hak rakyat yaitu rakyat harus merelakan sebagian miliknya untuk kebutuhan hidup sang raja dan kerajaannya. Rakyat harus memberi apa yang menjadi hak raja karena raja mempunyai kewajiban terhadap para pegawainya. Hak raja yang mengharuskan rakyat menyerahkan apa yang ada padanya bahkan sampai menjadi budak sekalipun, ternyata tidak menyurutkan niat mereka untuk mendesak Samuel agar mereka memiliki seorang raja. Akhirnya, atas firman Tuhan, permintaan mereka dikabulkan.
Nah … ada beberapa hal yang menjadi bahan pelajaran iman bagi kita di masakini yaitu :
Pertama : jabatan orangtua tidak serta merta dapat diwariskan kepada anak-anak. Tidak semua anak sama baiknya dengan orangtua. Kalau memang orangtua bermaksud mewariskannya maka haruslah dipersiapkan dengan matang dan tentu saja atas restu Tuhan. Anak-anakpun tidak dapat menerima begitu saja ‘warisan’ itu tanpa bertanggungjawab atas keperluan atau kepentingan atau maksud jabatan itu.




Kedua, kehendak untuk mendapatkan seorang raja atau pemimpin bukan semata agar menjadi sama dengan bangsa lain. Melainkan kesadaran akan tanggungjawab menjadi suatu bangsa yang dipimpin langsung oleh seorang manusia dengan segala hak-haknya. Kesadaran itu harus ada agar rakyat jangan seenaknya ‘berteriak’ kepada Allah bila raja tersebut tidak melaksanakan tugasnya dengan baik atau sesuai harapan rakyat.
Ketiga, Tuhan Allah melalui Samuel mengajarkan cara berdemokrasi yang santun. Mendengar, mengingatkan dan memberi informasi apa adanya adalah kegiatan dan proses berdemokrasi yang harus dikerjakan oleh seorang fasilitator. Samuel di sini bertindak sebagai perantara umat dengan Tuhan atau sebagai fasilitator sedangkan umat/bangsa yang memutuskan sendiri.
Keempat, Tuhan Allah itu sangat peduli dengan segala kehendak manusia. Karena itu Ia bersedia mendengar melalui hamba-Nya Samuel. Namun, Ia memberi wawasan agar manusia melakukan sesuatu dengan sadar. Umat dibelajarkan untuk tidak asal minta atau ‘iko rame’.
Kiranya, kita kaum perempuan/kaum ibu gereja dapat mengambil sikap yang berkenan kepada-Nya bila dihadapkan pada masalah-masalah jabatan dan kuasa. Apalagi kita baru saja selesai dengan proses pemilihan pelayan khusus tingkat jemaat. Semoga mereka yang terpilih betul-betul menerapkan prinsip kepemimpinan demokratis berdasarkan kehendak-Nya. Amin

Materi Diskusi
- Mengapa ada anak yang menjadi tidak baik atau berprilaku buruk padahal orangtuanya terkenal baik dan menjadi panutan banyak orang ? Ceritakanlah pengalaman, pengamatan dan pendapat ibu-ibu!
- Ceritakanlah pengalaman ibu-ibu tentang hal berdemokrasi dalam keluarga, gereja dan masyarakat.

Implementasi
Praktekkanlah kepemimpinan demokratis a.l. melalui kegiatan kepanitian atau kelompok kerja.